:: Raos Pacinan, Alliance of Majapahit and Mongol Army (Raos Pacinan, Aliansi Majapahit – Tentara Mongol) ::

•March 28, 2012 • Leave a Comment

Surabaya’s border at 7:15 o’clock in the morning is still quite warm, but it did not relieve my intention to get up from the bed and began adventuring. This time, my destination is Carat, a small village in Gempol district which is about 10 km south of Sidoarjo City. There is a signboard on the sidewalk Gempol- Mojosari road which made me curious since a year ago. The board state “Site Raos Pacinan 1.5 km” which indicates the existence of historical relics in the village. Carat has old name as Rabut Carat where listed in the inscription of Mount Butak (1294). In those inscription mentioned that, after defeating the rebel army of Gelang-Gelang (Kediri) in Kedung Peluk and Kapulungan, Raden Wijaya, son in law of Singhasari’s King, Kertanegara, facing his last victory in Rabut Carat. He soon moved to the north along with his relatives in law, Ardharaja. But from the Hanyiru, there was a large Gelang-Gelang’s army that broke defense line of Singhasari’s men. Ardharaja was deserted and left Raden Wijaya fought alone. In the end, Raden Wijaya with the rest of his army, amounting to 600 men, escaped and hid for a while in Rabut Carat.

1.5 km traveling through sugar-cane plantations and the canals of the River Porong, enough to give me sense of adventure. Finally I arrived at the scene and found this site, leaving only two statues of Dwarapala (a giant keeper) which faced toward west. According to Pak Soemari, the caretaker, once time ago, this site has a cupola and the pavilion. The site is also frequently visited by Chinese ethnic to ask for “guidance and inspiration”. However, in 1965, political turmoil in Indonesia damaged the part of this site.

There is also history regarding the existence of these Dwarapala’s. Rabut Carat was formerly a military base with alliances Majapahit-Mongol Army before retaliating against rebellion of Gelang-Gelang in Kediri. Not surprisingly, this location is just 30 meters from the banks of the River Porong. So, most likely, this statue is one of the gates into the office of the allies force. It’s a thing that I could not imagine, that this place used to be very important, large, and historic. Delta Brantas-Porong does have its own history in the eyes of Indonesia. We have a duty to maintain this asset for our next generation.

___________________________________________________________________________________

Perbatasan Surabaya pada pukul 07.15 pagi masih cukup hangat, namun tidak menyurutkan niat saya untuk bangkit dari peraduan dan mulai bertualang. Tujuan kali ini adalah ke daerah Carat, Kec. Gempol yang letaknya sekitar 10 km di selatan Sidoarjo. Ada satu papan penunjuk di tepi jalan Mojosari-Gempol yang membuat saya penasaran sejak setahun lalu. Papan tersebut bertuliskan “Situs Raos Pacinan 1.5 km” yang menunjukkan adanya peninggalan sejarah di sekitar Desa Carat tersebut. Desa ini merupakan nama lama dari Rabut Carat yang tercantum dalam Prasasti Gunung Butak (1294). Disebutkan bahwa setelah mengalahkan tentara pemberontak Gelang-Gelang (Kediri) di Kedung Peluk dan Kapulungan, Raden Wijaya yang merupakan menantu Raja Singhasari, Kertanegara menghadapi kemenangan terakhirnya di Rabut Carat. Beliau segera bergerak ke arah utara bersama Ardharaja, namun dari arah Hanyiru, muncullah armada besar Kediri yang memporak porandakan barisan pertahanan Singhasari. Ardharaja pun membelot dan meninggalkan Raden Wijaya berjuang sendirian. Akhirnya beliau bersama sisa pasukannya yang berjumlah 600 orang melarikan diri dan bersembunyi sementara waktu di Rabut Carat.

Perjalanan 1.5 km melewati areal perkebunan tebu dan kanal-kanal dari Sungai Porong cukup memberikan nuansa petualangan tersendiri di areal ini. Akhirnya saya tiba di lokasi dan ternyata situs ini hanya menyisakan dua buah patung Dwarapala (raksasa penjaga) yang menghadap ke arah barat. Menurut penuturan Pak Soemari yang menjadi juru kunci, dahulu situs ini memiliki cungkup dan pendopo untuk melindunginya. Situs ini juga sering didatangi oleh pebisnis-pebisnis etnis Tionghoa untuk meminta petunjuk dan ilham. Akan tetapi di tahun 1965, gejolak politik di Tanah Air ikut merusak keberadaan situs ini.

Ada cerita sejarah terkait keberadaan dua patung Dwarapala ini. Rabut Carat ternyata dahulunya adalah pangkalan militer bersama aliansi Majapahit – Tentara Mongol sebelum melakukan serangan balasan terhadap pemberontak Gelang-Gelang di Kediri. Tak heran, lokasi ini hanya berjarak 30 meter dari tepi Sungai Porong. Jadi, kemungkinan besar, arca ini adalah salah satu gerbang masuk ke kantor persekutuan dua pasukan tersebut. Sungguh sebuah hal yang tak bisa saya bayangkan, bahwa tempat ini dahulunya sangat penting, besar, dan bersejarah. Delta Sungai Brantas-Porong memang memiliki kesejarahan tersendiri di mata Indonesia. Kita harus menjaganya demi generasi mendatang.

:: Candi Tawangalun, Sebuah Persembahan Cinta Sang Raja (Tawangalun Temple, A Tribute of King’s Love) ::

•March 27, 2012 • Leave a Comment

Sekitar 30 menit saya perjalanan saya dari Waru menuju ke sebuah situs purbakala yang tidak pernah saya sadari, berada di dekat rumah. Terletak sekitar 400 meter dari Jalan Desa Buncitan-Gedangan atau sekitar 10 menit berkendara dari Bandara Internasional Juanda, bangunan arkeologi ini nampak tidak terawat dengan baik, walau “keangkuhannya” masih terasa Tidak ada papan penunjuk ataupun informasi tertulis terkait cara menuju candi ini, hanya bermodalkan jurus bertanya sajalah, akhirnya saya bisa tiba di tempat ini. Dibangun pada masa Kerajaan Majapahit masih bercokol di Nusantara, Candi Tawangalun berdiri dengan tujuan untuk “menyumbat” aliran lumpur yang keluar dari Gunung Uyah, sebuah bukit kecil dimana tempat candi ini berpijak. Jauh sebelum terjadinya Lumpur Lapindo, wilayah Buncitan sering mengeluarkan lumpur dan gelembung uap. Hingga saat ini, uap-uap dan gelembung tersebut masih keluar walau tidak sebesar jaman dahulu. Menurut legenda dan penuturan dari tokoh masyarakat setempat, candi ini dibangun oleh Raja Brawijaya II pada tahun 1292 (Majapahit baru berdiri 1293, dan gelar Brawijaya baru ada di masa Majapahit, mungkin maksudnya adalah Singhasari). Entah apakah benar atau tidak, candi ini adalah perwujudan rasa cinta dari seorang raja kepada selirnya. Kesan mistis sangat terasa saat kita memasuku areal candi. Tak jauh dari posisi candi, terdapat kompleks pemakaman rakyat. Hanya saja, komposisi dari candi ini sangat eksotis, karena terletak diatas bukit dan diapit pohon rindang. Semoga kedepannya, ada perhatian dari arkeolog dan pemerintah Sidoarjo agar mengelola candi ini dengan baik, bukan sebagai arena untuk meminta togel seperti saat ini. Penelusuran secara resmi dari kisah berdirinya candi ini juga diperlkan, agar anak cucu Buncitan mengetahui bahwa desanya di masa dahulu adalah tempat penting dan bersejarah.

About 30 minutes I was on my way from Waru towards an archaeological site that I never realized, it was near my house. Located about 400 meters from Buncitan-Gedangan village roads or about 10-min drive from Juanda International Airport, this archeology site is not well maintained, although the “arrogance” still feels. No signposts or written information which relevant to the temple, only with asking style, finally I can arrive at this temple. Built during the Kingdom of Majapahit was still entrenched in the archipelago, the temple Tawangalun stand in order to “block” the mudflow, which come out from Gunung Uyah, a small hill where the temple stand. Long before the mudflow happened in Lapindo Porong, the Buncitan region frequently cough-up mud and steam bubbles. Until now, the vapors and the bubble are still out, though in small scale. According to the legend and the narrative of local community leaders, the temple was built by King Brawijaya II in 1292 (newly established Majapahit 1293, and name of Brawijaya appeared during Majapahit period, perhaps the intention was Kingdom of Singhasari). Whether true or not, this temple was love manifestation of King Brawijaya to his mistress. Mystical impression is felt when we are entering temple. Not far from the temple, there is a local cemetery. However, the temple has exotic composition, since it is located on the hill and flanked by shady trees. Hopefully in the future, there is concern of archaeologists and Sidoarjo government to manage this temple, not as an arena for gamblers looking for inspiration. Official search of temple history is also needed, therefore Buncitan’s children and grandchildren understand that their village was an important village and historic places.

:: Peranap, a Short Story of Luhak Tigo Lorong (Peranap, Cerita Singkat Luhak Tigo Lorong) ::

•January 27, 2011 • 1 Comment

 

Peranap Rubber's Plant

Peranap is a buffer city in Indragiri Hulu Regent, 50-km from Japura Airport in Japura or 200-km away from Pekanbaru, Riau capital city. It is located beneath main road between Kiliran Jao (West Sumatera) and Rengat (Riau), which is very strategic for business. In 1990’s, Stanvac, a multinational oil company, decided to build a road from lantung (crude oil). In summer season, the road really hard and smooth but in rainy season, this road will be filled with slippery-mud. Nowadays, a hot-mix design has already applied, therefore a little bit stable in every season.

 

Ruins of Peranap's Viceroy Palace

No one knows for sure about Peranap history. Once upon time ago, Peranap was known as Luhak Tigo Lorong (A Country with Three Village) which covering Baturijal Hilir, Pematang, and Baturijal Hulu. At those moment, Indragiri Kingdom, led by Raja Hasan or Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 AD), faced a local chaos that caused by Datuk Dobalang, a sultan’s subordinate in Negeri Sibuai Tinggi (Taluk Kuantan nowadays). Within his ability and skillful martial arts, Datuk Dobalang succeeds to disrupt local stability in south side of Indragiri Kingdom. In order to handled this chaos, sultan hired three brothers (Tiala, Sabila Jati, and Jo Mahkota) from Batu Jangko (believed in Jambi now), which expert in Silat Batanghari (Jambi’s martial art), as his “secret agent”. Thanks to patience, perseverance, and their cunning, Datuk Dobalang finally killed in a fierce battle. Sultan really happy and gave them a parcel of land in Indragiri’s riverbank (near Pauh Ranap). They divided and controlled the area into three sub-regions (Baturijal Hilir, Pematang, and Baturijal Hulu. They also had sworn to protect each other and maintain peaceful situation until now. Over the time, this area growth and became Ibrahim’s residence, a viceroy of Indragiri Kingdom. He was proposed Viceroy Mosque (Masjid Raja Muda) in Pauh Ranap and build by a Chinese muallaf at 1883. From this Pauh Ranap words, finally peoples derive it as Peranap until now.

 

A Peranap's Old Man

Peranap peoples works as river fisherman, trader, rubber and palm plantation farmer. Most of them came from Melayu and Minangkabau ethnics which in old time, wandered from Pagaruyung Kingdom. No wonder, their accent influenced by Minangkabau language. There so much potential which can be extracted from this old town, especially in culture and heritage. With the construction of the bridge between the Pauh Ranap Old Village and Peranap Town, it is expected the economy from tourism and culture could be a recent mainstay of the region.

 

Peranap Viceroy's Old Mosque

Peranap merupakan salah satu kota penyangga di Kabupaten Indragiri Hulu, berada sekitar 50-km dari Bandara Japura, Japura atau 200-km dari Pekanbaru, ibukota Riau. Letaknya yang berada di lintasan utama Kiliran Jao-Rengat, memberikan efek bisnis yang cukup menjanjikan. Di tahun 1990-an, jalan raya di daerah ini masih berupa tanah bercampur lantung (minyak mentah) yang dibangun oleh Stanvac, salah satu perusahaan minyak asing di Indonesia. Pada musim kemarau, lantung ini mengeras layaknya aspal, namun pada musim hujan, jalanan berubah seperti medan off-road yang licin. Kini, aspal hot-mix telah menggantikan peran lantung dalam pembuatan jalan di wilayah ini.

Typical Pauh Ranap Village House

Tidak ada yang tahu pasti mengenai sejarah dari Peranap. Dahulu, wilayah Peranap disebut juga sebagai Luhak Tigo Lorong yang meliputi Baturijal Hilir, Pematang, dan Baturijal Hulu. Pada waktu itu, Raja Hasan dari Indragiri yang bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 M) mengalami kesulitan dalam mengatasi ulah bawahannya, Datuk Dobalang, yang berkuasa di Negeri Sibuai Tinggi (Taluk Kuantan sekarang). Berkat kesaktian dan keahlian beladirinya, Datuk Dobalang berhasil memporak-porandakan stabilitas keamanan wilayah selatan Indragiri dan membuat masyarakat di wilayah ini menderita. Untuk itulah beliau merekrut tiga orang bersaudara (Tiala, Sabila Jati, dan Jo Mahkota) dari Batu Jangko (wilayah Jambi sekarang) yang mahir dalam ilmu Silat Batanghari, sebagai “agen rahasia” dari sang sultan. Berkat kesabaran, ketekunan, dan kecerdikannya, akhirnya tiga bersaudara ini berhasil membunuh Datuk Dubalang pada sebuah pertarungan yang sengit. Atas jasa-jasanya, sang sultan menganugerahkan tanah di tepian wilayah Sungai Indragiri (dekat Pauh Ranap) kepada mereka bertiga. Dibawah janji dan sumpah persetiaan yang berlaku sampai sekarang, mereka membagi wilayah tersebut menjadi sama rata (Baturijal Hulu, Pematang, dan Baturijal Hilir). Seiring dengan perjalanan waktu, daerah tersebut berkembang dan sempat menjadi kediaman bagi Raja Muda Kerajaan Indragiri yang bernama Ibrahim. Beliau juga turut membangun Masjid Raja Muda di Pauh Ranap. Konon masjid yang didirikan pada tahun 1883 ini diarsiteki oleh muallaf dari Tionghoa. Dari kata Pauh Ranap inilah, nama Peranap berasal.

Optimistic of Peranap's Old Man

Kehidupan masyarakat Peranap lebih banyak berkutat pada perkebunan karet, sawit, nelayan sungai, dan berdagang. Mayoritas dari mereka adalah etnis Melayu dan Minangkabau yang dulunya berasal dari wilayah Kerajaan Pagaruyung. Tak heran, aksen bicara mereka seperti aksen orang Minang dalam berbicara. Banyak potensi yang bisa digali dari wilayah tua ini, terutama dari budaya dan warisan sejarah. Dengan dibangunnya jembatan penghubung antara Desa Tua Pauh Ranap dan Kota Peranap, diharapkan ekonomi dari sektor pariwisata bisa menjadi andalan terbaru dari wilayah ini.

:: Magnificent Cow Race (Pacu Jawi Yang Luar Biasa)::

•December 10, 2010 • 2 Comments
Cow Race

Cow Race

Pacu Jawi or Cow Race (in Minang Language) is one of cultural event that has been famous since ancient times. These events are spread throughtout Tanah Datar and Lima Puluh Koto Region. According to accounts from Uda Nel, a former jawi’s jockey from Parambahan, Tanah Datar, this event has been flying since The Padri’s Horde established their influence in Minangkabau. At the same time, the throne of the Kingdom Pagaruyung decreased due to intervention of the Dutch East India Company or VOC. In the first time, this activity is undertaken to fill the spare time of farmers class, who will enter the growing season. Therefore, the race is arrange in a rice field with full of mud or wet land. This race is so contrast with Karapan Sapi in Madura which actually do on dry land.

The unique one from Pacu Jawi is, the race is done by release only one pair of jawi (cow) with the jockey, not with an opposed-partner like as usual race. The jockey stand on a pirate who was in the middle of two cows. As a controller, the jockey hold cow’s tail. When the jocket need high speed, he must bite the cow tail. Not infrequently, the teeth of the jockey had become casualties of the above actions they do.

The winners are those who can managed the cow still drove in straight line from start to finish. The prize? Indeed there is no prize for the jockey in this Pacu Jawi. However, the price of the winning cow, could rise rapidly. Not surprisingly, many jawi that recognized as the winner of this race, have millions rupiahs as their price.

However, this event has changed the map of tourism in the domains Minangkabau, Indonesia, and even the world. If previous domestic and foreign tourists know only natural and historical attractions like the legendary canyon Sianok, Harau Valley, Sikuai, Palace Pagaruyung, Sawahlunto Mine Tour, etc., then Pacu Jawi has filled an important slot in the repertoire of cultural tourism in this region. Therefore, this event must be protected and developed, in accordance with the local wisdom and Minangkabau society. Hopefully in the future, one of these “Pearl of Minangkabau” culture, will be flying over the world.

Cow Race

Cow Race

Pacu Jawi atau Pacu Sapi (dalam Bahasa Minang) merupakan salah satu event budaya yang sudah terkenal semenjak zaman dahulu. Event ini tersebar di wilayah Tanah Datar dan Lima Puluh Kota. Menurut penuturan dari Uda Nel, salah seorang mantan joki jawi di daerah Parambahan, Tanah Datar, kegiatan ini telah berkibar semenjak zaman Kaum Paderi mengakkan pengaruhnya di Ranah Minangkabau. Pada saat yang bersamaan, tonggak tahta dari Kerajaan Pagaruyung juga mengalami penurunan akibat intervensi pihak VOC Belanda. Pada awalnya, kegiatan ini dilakukan untuk mengisi waktu luang dari golongan petani yang akan memasuki musim tanam. Jadi kondisi perlombaan dilakukan diatas sawah yang penuh dengan lumpur. Hal ini sangat berbeda dengan karapan sapi yang justru dilakukan di tanah kering.

Yang unik dari pacu jawi ini adalah, perlombaan dilakukan dengan melepas hanya satu pasang jawi plus jokinya, bukan dengan pasangan lawan layaknya perlombaan secara umum. Sang joki berdiri diatas bajak yang berada di tengah-tengah 2 ekor jawi (sapi). Sebagai alat pengendali, ekor sapi-sapi tersebutlah yang dijadikan sebagai gantungan harapan. Ketika dia mengingikan jawi-jawi tersebut melaju kencang, maka dia harus menggigit buntut jawi. Tak jarang, gigi-gigi sang joki pun menjadi tumbal atas aksi yang mereka lakukan.

Sang pemenang adalah mereka yang berhasil mengendalikan jawi-jawi tersebut tetap melaju dengan lurus dari start hingga finish. Hadiahnya? Justru tidak ada hadiah bagi joki dalam pacu jawi ini. Namun yang menjadi sorotaan adalah, harga jawi yang menang ini, harganya  bisa melonjak tajam. Tak heran, banyak jawi yang diakui sebagai pemenang perlombaan ini, harganya bisa menembus puluhan juta rupiah.

Bagaimanapun, event ini telah mengubah peta wisata di Ranah Minangkabau, Indonesia, bahkan dunia. Bila sebelumnya wisatawan domestik dan luar negeri hanya mengetahui wisata alam dan sejarah legendaris seperti Ngarai Sianok, Lembah Harau, Sikuai, Istana Pagaruyung, Wisata Tambang Sawahlunto, dan lain-lain, maka Pacu Jawi telah mengisi satu slot penting dalam khasanah wisata budaya di wilayah ini. Untuk itu, sudah sepatutnya event ini wajib dipertahankan keberadaannya dan dikembangkan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Tanah Datar dan Minangkabau. Semoga salah satu mutiara pesona Minangkabau ini semakin berkibar di dunia.

:: Jelajah Sekitaran Solo ::

•November 28, 2010 • 5 Comments

 

Gerbang Utara Kraton Kasunanan

Kali ini, angin membawa saya menjelajahi kota yang selama ini cuma jadi perlintasan kami menuju Jogja, yup..betul sekali sodara..kota itu adalah Solo. Sebenarnya keinginan untuk menjelajahi Solo sudah cukup lama terpendam, namun ya itu tadi..kalah kuat dengan aura Jogja. Penjelajahan Solo kami bagi menjadi 3 tahap. Tahap I menuju ke Karang Anyar (yah ini mah udah keluar Solo), tahap II jelajah Prambanan (ini juga di luar kota), dan tahap III keliling kampung di kota Solo.

Oia, perjalanan ini saya tempuh bersama keluarga, kebetulan saya lagi cuti, dan hari lebaran juga sudah lewat 2 hari..so, kita coba “family backpacking”. Singkat cerita, jalur yang kami tempuh melewati rute selatan Madiun-Ponorogo-Pacitan. Cerita mengenai Pacitan kita skip saja yak, tapi sumpah deh..memang cantik nih alam Pacitan. Kalau di Vietnam ada gua (yang kata orang sana sih cakep) dekat Halong Bay, maka di Pacitan ada Goa Gong dan Tabuhan yang luar biasa cakepnya. Timbul penyesalan, kenapa dari dulu gak kemari. Tapi ya sudahlah, namanya juga cari pengalaman..lain kali, maen ke Pacian lagi deh.

Setelah semalam menginap di Pacitan, perjalanan kami tempuh menuju Solo. 2 jam perjalanan kami tempuh hingga memasuki tapal batas kota. Target utama adalah tempat bobok di daerah Kauman. Kenapa milih disini? Ya, maen feeling aja lah..Cakra Home Stay akhirnya menjadi pilihan. Homestay ini merupakan kediaman dari Danar Hadi, Saudagar Batik Solo jaman dahulu. Tempatnya sederhana. unik dan banyak barang-barang antik di dalamnya. Rasanya kalau tinggal disini, serasa terbawa aura Solo tempo doeloe. Apalagi pada malam-malam tertentu, ada acara kesenian di salah satu hall nya. Kamarnya pun lumayan murah, yakni Rp. 150,000/malam.<

Galabo

Malam harinya, disaat perut merasakan penderitaan akibat lapar, kawasan Galabo (Gladak Langen Bogan) menjadi pelampiasan. Tidak tanggung-tanggung, timlo dan mie goreng menjadi korban keganasan kami. Karena rasa lapar yang menggelora inilah, kami tidak memikirkan, mana yang “the best culiner” nya, semuanya sama saja, tak heran kami pun jadi kalap =). Kawasan sepanjang kurang lebih 1 km ini membentang di sepanjang Jl. Mas Sunaryo (Beteng), Solo. Lokasinya pun tidak jauh dari pintu menuju alun-alun utara kraton. Selesai mamam, kami balik ke homestay untuk berlayar ke pulau kapuk.

 

Tahap I

And the journey begin…hasrat untuk mengunjungi kompleks candi super-unik sudah tak terbendung. Perjalanan menanjak ke arah Tawangmangu terasa menarik saat sekumpulan perbukitan yang disulap menjadi perkebunan teh menyambut kedatangan kami. Yup..tempat tersebut terkenal dengan nama Kemuning. Saya membayangkan kalau, Puncak sekitar 20 tahun yang lalu seperti ini. Udara segar, aliran air jernih, serta langit biru yang cantik turut menghiasi bukit-bukit teh di Kemuning. Sempat terpikirkan, apakah dasar wallpapers Windows XP diambil dari perkebunan ini yak? Wallahul a’lam. Sekitar 30 menit dari kompleks perkebunan

Gerbang Ratu Boko

teh, dengan jalan yang cukup tajam tanjakannya, tibalah kami di Candi Cetha. Disini, yang unik adalah, adanya simbol alat kelamin wanita dari batu andesit. Struktur percandiannya juga berundak-undak mirip di Bali. Bangunan candi ini dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit. karena cuaca sudah mulai mendung dan kabut mulai turun, kami bergegas menuju Candi Sukuh yang berada kurang lebih 1 km dari Candi Cetho. Candi ini pun juga unik, karena banyak sekali ditemukan perlambang alat kelamin laki-laki. Candi ini juga dibangun sezaman dengan Candi Cetha, yakni pada masa pemerintahan Ratu Suhita dari Majapahit. Ya, tak heran, alat kelamin laki-laki di ekspos, karena yang memberi titah ratu…Struktur candi ini lebih menyerupai candi-candi piramida di Aztec. Hmm..apakah nenek moyang kita sudah berlayar hingga ke Mexico yak? Wallahul’alam juga. Setelah puas dengan Candi Sukuh, tiba saatnya untuk menikmati

Ratu Boko

keindahan alam dari Air Terjun Jumog. Dimana itu? Letaknya tidak jauh, sekitar 500-meter dari Candi Sukuh turun menyusuri jalan beraspal yang kondisinya cukup baik. Di hari libur, na’udzubillah ramenya, apalagi dengan lahan parkir yang cukup luas, jejeran sepeda motor mendominasi kawasan air terjun ini. Ya sudahlah, kita nikmati saja kesegaran air terjun ini, walaupun foto-foto banyak yang gagal saya dapatkan. Tak terasa sudah sore hari, saatnya kembali ke Solo untuk beristirahat.

Tahap II

Reruntuhan Candi Ijo

Kompleks Prambanan menjadi target keesokan harinya..!! Tak heran, kami pun berangkat pagi-pagi sekali karena mendapat informasi kalau jam 06.00, Prambanan sudah buka tapi masih sepi banget. Saat berjalan menuju ke Prambanan, pandangan saya menoleh ke arah timur, ke arah bukit dimana Ratu Boko berada, dan saya lihat langit cukup bagus..yess..!! that’s my point. Mobil langsung diarahkan menuju ke sana, dengan sedikit tanjakan sekitar 400-meter dpl, kawasan Candi Ijo menjadi tempat pertama yang kami singgahi. Ada 5 candi dimana kelima-limanya masih tegak berdiri kokoh diatas sebuah bukit. Sejatinya, kompleks ini memiliki sejumlah bagunan kuno sebanyak 17 buah, namun hanya beberapa yang berhjasil direnovasi. Candi Ijo adalah candi yang letaknya paling tinggi di tapal batas Yogyakarta yang menyuguhkan pesona alam dan budaya serta pesawat yang tengah landing. Menurut informasi, keberadaan candi ini membuat landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.

Candi Banyunibo

Selanjutnya, perjalanan diteruskan menuju Candi Banyunibo. Candi Buddha ini berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Ada sebuah kanal yang memisahkan antara candi dengan jalan utama, sehingga kita akan terhubung oleh jembatan. Candi ini cukup cantik dengan latar belakang perbukitan hijau. Tak terasa sudah tengah hari, saatnya kami balik ke Solo, ups…Candi Ratu Boko jangan sampai dilewatkan…cerita mengenai candi ini sudah cukup melegenda dan mengakar. Dahulunya, kompleks ini merupakan tempat tinggal biksu-biksu Mataram Kuno yang disulap menjadi istana kerajaan. Candi ini juga yang menjadi tempat terakhir Balaputradewa menginjakkan kaki di Bhumi Mataram, sebelum dia melarikan diri ke Sumatera untuk bertahta disana. Well, badan sudah capek-capek dan perut udah laper, saatnya balik ke Solo.

Tahap III

Kampung Batik Kauman

It’s shopping time..kalau ke Solo tak lengkap rasanya tidak membawa oleh-oleh batik. Tapi, sebaiknya kita berkeliling di kawasan kampung-kampung Solo terutama Laweyan dan Kauman. Suasana tradisional mengingatkan saya pada deretan kampung di kawasan Peneleh, Surabaya. Rumah berjejer berhimpitan serta beberapa industri batik mendorong tingkat perekonomian masyarakat sekitar. Bisa dikatakan, Solo memang ditakdirkan untuk berkembang dari batik. Perjalanan kami susuri mulai dari hiruk pikuknya suasana Pasar Klewer, antiknya Masjid Kauman, serta beberapa bangunan tua yang menghiasi putaran Kraton Solo.

Berjalan menyusuri peradaban Solo layaknya melintasi peradaban tiga jaman, mulai dari jaman kesultanan, perjuangan

Generasi Muda Kraton

kemerdekaan, hingga moderen. Bagaimanapun perkembangan kota ini, sebaiknya janganlah mengaburkan identitas diri dan budaya kota, kareha hal tersebut yang menghubungkan kenangan masa lalu dan proyeksi masa saat ini. Kita patut bersyukur, bahwa hal tersebut masih dipegang oleh mayoritas masyarakat di Solo, walaupun tantangan besar dan modernisasi terus menggerogoti ruang nafas kota ini. Hmm..memang tidak salah bila pemerintah memberi julukan bagi kota ini “The Spirit of Java” (Semangatnya Jawa).

:: Medan, Cermin Indahnya Keberagaman ::

•November 10, 2010 • 5 Comments

Tak terasa, 23 tahun sudah saya meninggalkan kota kelahiran tercinta, Medan. Tak banyak yang saya ingat dari kota ini di masa kecil, selain kenangan perjuangan orang tua saya disini, kompaknya hubungan persaudaraan kami di Medan, serta pengalaman tak terlupakan dari ibunda, dijambret di daerah kebon binatang lama. Ada sebuah kerinduan mendalam untuk mengunjungi kembali kota tersebut.

Karena kebijakan dari perusahaan, perjalanan panjang dari Pekanbaru-Jakarta-Medan dengan burung besi terpaksa saya lalui hingga berakhir di Bandara Polonia Medan. Padahal maskapai maskapai tertentu justru memberikan direct flight dari Pekanbaru-Medan. Tapi, ya disyukuri sajalah, mana dapat makan gratis di pesawat =).

Tidak ada perubahan yang berarti dari bandara ini sejak keluarga kami hengkang dari Medan, selain penambahan beberapa fasilitas pelayanan tiket dan juga kios-kios bandara. Dan yang paling riskan adalah, di dekat bandara sekarang sudah bermunculan perumahan-perumahan elite yang rata-rata berlantai dua. Agak seram juga melihat keadaan seperti ini, mengingat di tahun 2005, kecelakaan pesawat menghantam pemukiman penduduk di sekitar Padang Bulan, daerah yang notabene dekat dengan bandara. Disamping itu, angka dan tingkat kebisingan dari aktivitas bandara pasti berpengaruh dengan kualitas kesehatan dari masyarakat setempat. Rencananya, Bandara Polonia ini akan digantikan posisinya oleh Bandara Kuala Namu yang terletak di Deli Serdang. Dulu, bila saya susah sekali makan, maka ibu dan bapak kerap membawa saya ke bandara. Menurut beliau, ketika tiba di bandara, selera makan saya langsung lahap jaya (..kelakuan yang aneh =)..).

Menyusuri pusat Kota Medan layaknya menyusuri kota tua yang telah bercampur dengan modernisasi di sana sini. Hal itu bisa kita lihat di kawasan Kesawan Square. Kawasan ini sejak dahulu telah terkenal sebagai pusat niaga terbesar di Medan. Etnis yang berkumpul disini lumayan kompleks,mulai dari India, Tionghoa, Melayu, Minang, Jawa, dan Batak. Bangunan-bangunan tua yang tetap bertahan antara lain Gedung London Sumatera yang dulunya dimiliki konsorsium perkebunan ternama Harrison & Crossfield Plc London, Kediaman Tjong A Fie (bekas kapitan dan orang terkaya di Medan), Café Tip Top (terkenal semenjak zaman kolonial hingga sekarang), serta beberapa gedung yang lain. Beberapa tahun yang lalu, Kesawan Square jugz memiliki tempat makanan menyerupai Kya-Kya di Surabaya. Namun saat ini tempat tersebut sudah tidak ada lagi. Sebagai pengantinya adalah kawasan pujasera Merdeka Walk yang tiap sore-malam ramai sebagai tempat melepas penat masyarakat Medan.

Tidak jauh dari Kesawan Square, terdapat salah satu ikon dari Kota Medan, yakni Istana Maimoon. Istana bernuansa Moor, Eropa, dan Melayu ini merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang hingga saat ini masih bertahta. Bangunan ini mencerminkan perkembangan Islam di Sumatera yang telah modern, dimana tingkat arsitekturnya telah mencampur beberapa unsur budaya dunia. Di Istana Maimoon inilah, keluarga Sultan Deli bermukim hingga sat ini. Di salah satu sudut istana, terdapat salah satu bagian dari meriam keramat, yakni Meriam Puntung yang dahulu terbagi menjadi dua, satu di Deli ini, dan satu lagi berada di Tanah Karo. Menurut legenda, meriam ini merupakan penjelmaan dari adik Putri Hijau dari Kerajaan Haru yang berjuang mempertahankan Istana Haru dari gempuran armada Aceh. Karena terlalu sering memuntahkan tembakan, meriam menjadi panas dan akhirnya terbelah menjadi dua. Apapun kisahnya, istana ini masih menampilkan pesona kemegahan masa lalu yang tak lekang oleh masa.

Berkunjung ke Istana Maimoon kurang lengkap rasanya bila tidak mampir ke Masjid Raya. Masyarakat disana sering menyebutnya sebagai Masjid Simpang Raya, karena ada bangunan (mungkin rumah makan Minang) bernama Simpang Raya yang berada di depannya. Kalau tukang ojek dan betor (becak motor) menyebutnya sebagai Masjid Raya Sisingamangaraja. Namun nama resmi masjid ini adalah Masjid Raya Al Ma’shun. Dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906 M, masjid unik ini terkenal dengan keindahan ornamen luar dan dalamnya. Memadukan gaya gado-gado antara Moor, India, Andalusia, dan Eropa, masjid ini juga telah menjadi salah satu ikon dari Kota Raya, julukan dari Kota Medan. Bila bulan Ramadhan tiba, di sekitar masjid berdiri tenda-tenda resmi penjual makanan, dan tak jarang pula ada konser di Taman Sri Deli, yang tepat berada di depannya.

Melihat banyaknya perpaduan dan pencampuran gaya arsitektur kebudayaan besar dunia, mencerminkan betapa kekuatan kota ini bergantung kepada beragamnya bangsa yang mendiami kota. Perpaduan budaya ini pula yang membentuk watak bertahan hidup yang terkenal dari penduduk Medan. Medan kini telah berubah menjadi kota metropolis di penjuru utara Sumatera. Walau demikian, masyarakatnya masih mau menghargai sisa-sisa peninggalan masa lalu dimana semangat kejayaan masa lalu mengiringi degup jantung kota ini. Medan selalu membuat saya terkenang dan ingin kembali. Apa alasannya? Tidak ada alasan yang berbelit-belit, karena “..Ini Medan, Bung..!!..”.

Old and new building in Kesawan Square

One of old building in Kesawan

Brick style building in Kesawan Square

Bank Danamon @ 70th year old building

Tjong A Fie Mansion

A crossroad in Medan

Maimoon Palace, the house of Deli Sultanate

A corner of Masjid Raya Medan

Conversasions after pray

Medan Great Mosque (Masjid Raya Medan)

:: Uniqueness Sidoarjo’s Batik Kampong (Village) ::

•July 6, 2010 • 2 Comments

Batik's Mural by Afrinaldi Zulhen

Batik is an uniqueness of Indonesian culture. Since announced as Masterpieces of The Oral and Intangible Heritage of Humanity at October 2nd, 2009 by UNESCO, the prestige of batik getting bloom, moreover, several institution and company in Indonesia use it as special uniform on particular workdays. The hope to see rapid growth of batik industry come-up again after crushed by monetary crisis on 1998. This is my short story about batik heritage in Sidoarjo City, one of major city in East Java. It is an ironic, after 21st year I lived in Sidoarjo, I just realized there is a traditional batik’s kampong (village) in this city. The name of kampong is “Kampong Batik Jetis”, and it is located on Jetis Road, Sidoarjo City. The kampong is not so far from Sidoarjo Railway Station, therefore it is not too difficult to reach by

Canting by Afrinaldi Zulhen

visitors. Inside this kampong, we will find an extraordinary atmosphere of the old township. Antique architecture combined with huge windows and old furniture fashioning this kampong. The people are also very friendly and warm with the visitors.

Garuda Wings by Afrinaldi Zulhen

According to trusted source, batik has been rose since 1600’s as well as Mataram Sultanate in Yogyakarta. At that time, Mataram extend their reign from inland into North Java coastal, included Sidoarjo and Surabaya. That’s why, perhaps, the color of Sidoarjo’s batik is very dominant with strong red, yellow, black, blue, or green leaf. Those kinds color have a courage symbol as well as representative of coastal people’s resistance towards Mataram Sultanate.

Back the story, there are batik workshops which organized by several family in this kampong,

Batik's Uniform by Afrinaldi Zulhen

such as Batik Amri Jaya and Batik Rochmad. Mostly, the batik business successor in those family has entered into the third generation, it means that, they have been through their up and down phase in this business, from rarely of materials, inks, and also monetary crisis itself. But, Alhamdulillah, they still survive even though a lot of batik-minor industry was shut-down during the crisis. Each family has unique design and theme with peacocks or garuda’s (eagle) in their stripes. This is the typical of Madura’s batik, but they usually use it for head-cap and scarf only, while Sidoarjo’s batik multifunction.

 

Washing The Batik by Afrinaldi Zulhen

Within this uniqueness, then, on May 3rd, 2008, Sidoarjo’s Regent inaugurated Kampong Batik Jetis as one of the leading tourist attraction in Sidoarjo. Today, Batik Sidoarjo also involved in several exhibitions around Indonesia and abroad. Hopefully the existence of this batik will be growing forever in the hand of Sidoarjo’s youth generation.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.